Jasa Seorang Calo : Antara Benci dan Rindu
Mungkin banyak sekali kontroversi tentang percaloan atau perjokian dan begitu banyak sekali bidang layanan publik yang didalamnya terdapat praktek percaloan ini. Loket loket yang sangat banyak praktek percaloan ini adalah loket tiket kereta api, loket bayar pajak dan banyak lagi loket loket layanan pemerintah yang dalam aktivitasnya membuat sebuah antrian yang panjang dan berbelit serta merepotkan dan membingungkan masyarakat banyak.
Saya sendiri termasuk golongan yang setuju adanya calo atau joki ini, saya melihat ada sebuah jasa dari mereka walau terkesan mudah tapi berguna. Barusan tadi saya membayar pajak motor saya, dan saya tentunya menggunakan jasa calo ini. Dengan menggunakan jasa calo saya lebih santai dan bisa mengerjakan hal rutin saya sehari hari tanpa dibebani rutinitas bayar pajak pada umumnya, mulai dari foto kopi ini dan itu, gosok rangka mesin rangka bodi dll. Dengan jasa seorang calo saya cuma perlu KTP Asli dan STNK Asli serta waktu 1 jam lebih dikit. Bandingkan dengan teman saya yang mengurus sendiri dengan banyak sekali persyaratan dan waktu hampir 1 minggu kelar.
Kalau dipikir secara ekonomi, memang saya terlihat membayar lebih mahal, tadi saya lebihkan bayarannya Rp 40 ribu. tapi bila dibandingkan dengan ngurus sendiri, biaya, tenaga dan waktu untuk mengurus hal yang sama bisa melebihi Rp 40 ribu. tapi itu dengan asumsi kalo si pembayar adalah orang yang aktif bekerja. kalo yang mau bayar pajak orang yg gak ada kerjaan, ya sebaiknya di antri saja biar ada kerjaan
Dari sekian banyak praktek percaloan ini, saya melihat percaloan tiket kereta apilah yang keuntungannya berkali lipat dan wajar kalau praktek seperti ini perlu di berantas, tapi kalau seandainya harga kenaikannya masih wajar, ya mungkin perlu dipertahankan percaloan di kereta api. Saya masih rela membayar tiket yang awalnya seharga Rp 50 ribu menjadi Rp 55 – 60 ribu ketimbang saya harus antri berdesak desakan sampai dadak sesak dan memakan waktu untuk antri berjam jam, kadang sampai berjam jam sebelum loket dibuka sudah pada nganti di depan loket yang penuh sesak. tapi jika harganya sampai berkali lipat ini keterlaluan tentunya.
Jadi kesimpulan saya, calo dan joki silakan tetap ada karena ada sebagian orang mau menggunakan jasa ini tapi jangan sampai menghalangi yang orang lain yang tidak mau atau tidak memerlukan joki/calo. Dan dari sekian banyak praktek percaloan, layanan pemerintah lah yang ada praktek percaloan ini, tanya kenapa ?????




No Comments, Comment or Ping
Reply to “Jasa Seorang Calo : Antara Benci dan Rindu”